Sabtu, 05 Februari 2011

TEORI PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK


1) TEORI EKOLOGI BRONFENBRENNER
Teori ekologi yang dikembangkan oleh Urine Bronfenbrenner (1917-2005) berfokus pada konteks-konteks sosial tempat anak-anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan mereka.
Ada lima sistem lingkungan, dari hubungan interpersonal yang kuat sampai pengaruh budayah internasional. Lima sistem tersebut adalah:
a. Mikrosistem
Mikrosistem adalah lingkungan tempat individu tersebut menghabiskan banyak waktu seperti: keluarga, teman sebaya, dan yang lainnya. Bagi Bronfenbrenner, siswa bukanlah penerima pengalaman yang pasif, melainkan serorang yan berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu membetuk mikrosistem.
b. Mesositem,
Mesosistem adalah hubungan antara mikrosistem. Contohnya hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, serta antara keluarga dan dan teman sebaya. Sebagai contoh: pikirkanlah satu mesositem yang penting, yaitu hubungan antra keluarga dan sekolah. Dalam sebuah studi dari ribuan siswa kelas delapan, pengaruh pengalaman keluarga dan kelas terhadap sikap dan prestasi para siswa, diteliti ketika para siswa sedang mengalami masa transisi dari tahun terakhir sekolah menengah pertama ke tahun pertama sekolah menengah atas (Epstein, 1983). Siswa yang diberi banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan membuat keputusan, baik ketika berada di rumah atau di kelas, menunjukkan lebih memiliki inisiatif dan mendapatkan nilai yang lebih baik.
c. Ekosistem
Ekosistem berfungsi ketika pengalaman di keadaan lain (dimana siswa tersebut tidak memiliki peran aktif) mempengaruhi apa dialami siswa dan guru dalam konteks terdekat. Sebagai contoh, pikirkanlah dewan pengawas sekolah dan taman dalam suatu masyarakat. Mereka mempunyai peran yang kuat dalam menentukan kualitas sekolalah , taman, fasilitas rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereka bisa membantu atau menghalangi perkembagan seorang anak.
d. Makro sistem
Melibatkan buda yang yang lebih luas. Budaya merupakan istilah yang sangat luas, mencakup peran faktor etnis dan sosial ekonomi dalam perkembangan anak-anak. Inilah konteks yang paling menyeluruh dimana siswa dan guru tinggal, termasuk berbagai nilai dan kebiasaan masyarakat(Cole,2006;Shwder,dkk,2006). Sebagai contoh, beberapa budaya(seperti budaya negara islam- misalnya Mesir atau Iran) menekankan peran gender tradisional. Budaya lain (seperti yang ditemukan di Amerika serikat) menerima peran gender yang lebih bervariasi. Disebagian besar negara islam, sistem pendidikan mendukung dominasi laki-laki. Di Amerika serikat, sekolah-sekolah lebih mendukung nilai kesetaraan dalam kesempatan untuk perempuan dan laki-laki.
e. Kronosistem
Mencangkup kondisi sosiohistoris dari perkembangan para siswa. Sebagai contoh, kehidupan anak-anak pada zaman sekarang berbeda dalam banyak hal, bila dibandingkan pada saat orang tua kakek atau nenek mereka masih anak-anak. Anak-anak pada zaman sekarang lebih sering beraada di tempat pengasuh anak, menggunakan komputer, hidup dalam keluarga yang bercerai atau menikah lagi, kurang memiliki hubungan dengan kerabat di luar keluarga dekat mereka, dan tumbuh dewasa di berbagai kota yang terpencar-pencar bukan termasuk perkotaan, pedesaan, atau pinngiran kota.



Mengevaluasi Teori Brenfenbrenner
Teori Brenfenbrenner telah memperoleh popularitas beberapa tahun terakhir. Teori ini sedikit memberi satu dari sedikit kerangka kerja teoritis untuk menelaah konteks sosial, secara sisemtis baik pada level makro maupun level mikro, menjebatani antara teori perilaku yang berfokus pada hal kecil dan teori antropologi yang menganalisis hal yang lebih besar. Teori ini sangat menolong dan menunjukan bahwa perbedaan dalam kehidupan anak-anak saling berkaitan.
Para pengkritik teori Brenfenbrenner mengatakan bahwa teori tersebut tidak terlalu memperhatikan faktor biologis dan faktor kognitif perkembangan anak-anak. Mereka juga menyatakan bahwa teori tersebut tidak membahas perkembangan secara bertahap, yang merupakan fokus beberapa teori, seperti teori Piaget dan teori Erikson.

2) TEORI PERKEMBANGAN RENTANG KEHIDUPAN ERICSON
Dalam teori Erikson (1968), menjelaskan bahwa ada delapan tahapan perkembangan digambarkan seperti individu menyusuri rentang kehidupannya. Setiap tahap terdiri atas tugas perkembangan yang mempertemukan individu dengan sebuah krisis. Bagi Erikson, setiap krisis bukanlah sebuah bencana, melainkan merupakan titik balik dari kerentanan yang semakin meningkat dan potensi yang semakin tinggi. Semakin berhasil individu menyelesaikan setiap krisis, semakin sehat individu tersebut secara psikologis. Setiap tahap mempunyai sisi positif dan sisi negatif.
Delapan tahap perkembangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Kepercayaan (trust) versus ketidak percayaan (mistrust), adalah tahap psikososial Erikson yang pertama. Tahap ini muncul pada tahap pertama kehidupan.kepercayaan dapat dapat berkembang dengan baik jika anak mendapatkan kehangatan dan kasih sayang yang cukup. Hasil positifnya adalah anak merasa nyaman dan tidak merasa takut. Ketidak percayaan berkembang ketika bayi diperlakukan secara terlalu negatif atau diabaikan.
2) Otonomy (autonomy) versus rasa malu ragu (shame and doubt), adalah tahap psikososial Erikson yang kedua. Tahap ini muncul pada akhir masa bayi dan usia toddler. Setelah mendapatkan kepercayaan dalam diri pengasuh mereka, bayi mulai mengetahui bahwa perilaku mereka adalah wajar. Mereka menyatakan kebebasan mereka dan menghindari kehendak mereka. Apabila bayi dikendalikan atau dihukum terlalu keras, mereka akan mengembangkan perasaan malu dan ragu.
3) Inisiatif (initiative) versus rasah bersalah (guilt) adalah tahap psikososial Erikson yang ketiga. Tahpn ini sesuai dengan masa kanak-kanak awal, yaitu sekitar tiga sampai lima tahun.seiring dengan banyaknya pengalaman dan lingkungan sosial, anak-anak dituntut untuk lebih baik dibandingkan ketika mereka masih bayi. Untuk menghadapi tantangan ini, mereka harus terlibat dalam perilaku yang aktif dan mempunyai tujuan. Dalam tahap ini, orang dewasa mengharapkan anak-anak untuk menjadi lebih bertanggungjawab atas diri sendiri dan barang kepunyaan mereka. Mengembangkan rasa tanggungjawab akan meningkatkan inisiatif.anak-anak akan mengembangkan rasa bersalah apabila mereka tidak bertaggung jawab atau terlalu cemas.
4) Rajin (industry) versus rendah diri (inferiority) adalah tahap psikososial Erikson yang keempat. Tatap ini kuranglebih sesuai dengan masalah sekolah dasar, dari usia 6 tahun sampai pubertas atau masa remaja awal. Inisiatif akan membawah anak-anak ke dalam berbagai pengalaman baru. Ketika mereka memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka untuk menguasai ilmu dan keterampilan intelektual.anak-anak lebih antusias belajar pada tahap ini ketimbang pada akhir masa kanak-kanak awal, ketika daya imajinasi mereka tinggi. Bahaya dalam tahun-tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, ketidakproduktifan dan ketidak cakapan.
5) Identitas (identity), versus kebingungan identitas (identity konfusion), tahap ini sesuai dengan masa remaja. Remaja berusaha untuk mencaritahu diri mereka, seperti apakah mereka dan kemana tujuan hidup mereka. Mereka dihadapkan dengan banyak peran baru dan status orang dewasa (seperti pekerjaan dan cinta). Remaja perlu diijinkan untuk mengeksplorasi jalan–jalan yang berbeda untuk membentuk identitas mereka. Apabila remaja tidak cukup mengeksplorasi peran-peran yang berbeda dan tidak mengembangkan masa depan jalan yang positif, mereka akan tetap merasa bingung akan identitas mereka.
6) Keintiman (intimacy) versus isolasi (isolation), tahap ini sesuai dengan masa dewasa awal, usia 20-an dan 30-an. Tugas perkembangannya adalah membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bahaya dalam tahap ini adalah seseorang akan gagal membentuk hubungannnya yang akrab dengan teman atau pasangan dan menjadi terasing secara sosial.
7) Generativitas (generativity), versus stagnasi (stagnation). Tahap ini sesuai dengan masa dewasa menengah usia 40-an dan 50-an. Generativitas berarti memindahkan sesuatu yang positif ke generasi berikutnya. Ini bisa melibatkan peran-peran seperti menjadi orang tua dan guru, dimana orang dewasa membantu generasi berikutnya dalam mengembangkan kehidupan yang berguna.
8) Integritas (integrity) versus keputusasan (despair), tahap ini sesuai dengan masa dewasa akhir, usia 60-an sampai kematian. Orang dewasa yang lebih tua meninjau kembali kehidupan mereka, merenungkan apa yang telah mereka lakukan. Apabila evaluasi yang berkaitan dengan masa lampau ini positif, mereka mengembangkan rasa integritas. Artinya mereka menganggap kehidupan mereka memiliki integritas yang positif dan layak dijalani. Sebaliknya, orang dewasa lebih tua menjadi semakin putus asa bila kilas balik mereka sebagian besar negatif.
Untuk lebih jelasnya perkembangan sosial emosional menurut Erikson dapat digambarkan sebagai berikut:



3) STRATEGI MENDIDIK ANAK MENURUT TEORI ERIKSON
a) Mendorong insiatif dalam diri anak-anak.anak-anak pada program pendidikan pra sekolah dan masa kanak-kanak awal harus diberi banyak kebebasan untuk mengeksplorasi dunia mereka.mereka harus diijinkan untuk memilih beberapa aktifitas di mana mereka akan terlibat dan dan diberi materi yang menarik untuk merangsang imajinasi mereka.anak-anak pada tingakatan ini senang bermain.bermain tidak hanya memberi manfaat untuk perkembang sosial emosional mereka tetapi juga mearupakan media yang penting untuk pertumbuhan kognitif mereka.
b) Mendorong anak-anak sekolah dasar untuk lebih rajin. Para guru mempunyai tanggung jawab khusus untuk mendorong anak-anak lebih rajin. Erikson berharap guru-guru dapat memberi susasana yang mebuat anak-anak bergairah untuk belajar.
c) Menstimulasi eksplorasi identitas pada masa remaja. Kenali bahwa identitas siswa itu bersifat multi dimensional. Aspek-aspek mencangkup tujuan pendidikan, perestasi intelektual, serta minat dan hobi olah raga, musik dan bidang-bidang lain.mintalah para remaja untuk menulis esay tentang aspek-aspek tersebut, mengeksplorasi siapa diri mereka, dan apa yang mereka ingin mereka lakukan dalam hidup mereka.dorongah para remaja untuk berpikir secara independend dengan bebas mengungkapkan pandangan mereka.
d) Periksalah hidup anda sebagai guru melalui lensa delapan tahapan Erikson. Sebagai contoh, anda mungkin berada pada usia dimana Erikson mengatakan bahwa isu yang paling penting adalah identitas versus kebingungan identitas. Sebuah aspek penting dari perkembangan bagi orang dewasa awal adalah memiliki hubungan yang positif dan akrab dengan orang lain.
e) Manfaatkan karakteristik dan beberapa tahapan Erikson yang lain. Guru-guru yang kompeten, dapat dipercaya, menunjukan inisiatif, rajin dan menunjukan penguasaan, serta termotivasi untuk mengontribusikan sesuatu yang berarti untuk generasi berikutnya.





4) KONTEKS PERKEMBANGAN SOSIAL

a) Keluarga
Anak-anak tumbuh dewasa dalam keluarga yang berragam. Setiap keluarga mempunyai pola asuh yang bebeda-beda dalam mengasuh anaknya. Gaya pengasuhan orangtua snagat berpengaruh terhadap pembentukan sosial anak.
Baumrind mengatakan bahwa ada empat bentuk utama gaya pengasuhan orang tua yaitu:
1. Pola asuh otoriter (ooritarian parenting), bersifat membatasi dan menghukum.orang tua otoriter mendesak anak-anak untuk mengikuti perintah mereka dan menghormati mereka. Mereka mendapatkan batas dan kendali yang tegas terhadap anak-anak mereka dan mengijinkan sedikit komunikasi verbal.
2. Pola asuh Otoritatif (autoritative parenting), mendorong anak-anak untuk mandiri, tetapi masih menempatkan batas-batas dan mengendalikan tindakan mereka.
3. Pola asuh mengabaikan (neglectful parenting), adalah gaya pengasuhan dimana orng tua tidak terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka.ketika anak-anak mereka menginjak masa remaja atau anak-anak, orangtua mereka tidak dapat menjawab pertanyaan ,”sekarang pukul 10 malam, apakah anda tahu dimana anak anda sekarang.
4. Pola asuh yang memanjakan (indulgent parenting), adalah gaya pengashan dimana orangtua sangat terlibat dengan anak-anak mereka, tetapi hanya sedikit batasan atau larangan atas perilaku mereka.orangtua ini membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang mereka inginkan dan mendapatkan keinginan mereka karena mereka yakin bahwa kombinasi dari pengasuhan yang mendukung dan kurangnya batasan, akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah anak-anak ini biasanya tidak belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri.
Lebih rinci polah pengasuhan orang tua dapat diuraikan sebagai berikut:


Anak-anak dari orangtua yang bercerai
Pengaruh perceraian terhadap anak-anak sangatlah kompleks, bergantung pada faktor seperti usia anak , kelebihan dan kekurangan anak pada saat perceraian, jenis pengawasan, status sosial ekonomi, dan fungsi keluarga pasca perceraian (lansford,dkk,2006). Penggunaan sistem pendukung (kerabat, teman, pengurus rumah tangga), hubungan positif yang terus menerus antara orang tua wali dan mantan suami atau istri , kemampuan untuk memenuhi finansial, dan pendidikan yang berkualitas membantu anak-anak menyesuaikan diri dengan keadaan perceraian yang penuh tekanan (huure, junkkari & Aro, 2006)



Conto kasus perceraian orang tua
Maggie adalah seorang siswa kelas lima yang berusia sepuluh tahun, sebelumnya Magie merupakan seorang anak yang bahagia dan mempunyai prestasi yang bagus di sekolah, tetapi semua itu berubah ketika orang tuanya baru-baru ini berpisah. Ayahnya pindah dari rumah dan ibu Magie menjadi tetekan. Maggie mulaitidak pergi ke sekolah. Sekarang meskipun ia datang ke sekolah secara teratur, ia kesulitan untuk berkonsentrasi pada tugas sekolahnya.
Berikut ini beberapa strategi untuk menyelesaikan masalah anak di atas:
1. Temuilah orang tuanya.
2. Rekomendasikanlah bantuan profesional
3. Dukunglah sianak
4. Rekomendasikalah buku yang bagus, yang berkaitan dengan perceraiian

b) Keterlibatan orangtua dan hubungan sekolah – keluarga-masyarakat

Guru-guru yang berpengalaman, memngetahui pentingnya membuat orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anak. Dalam sbuah survei , para guru menyebutkan ketelibatan orang tua sebagai prioritas nomor satu untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Chira, 1993). Namun sekolah sering kali tidak menentukan tujuan atau mengimplementasikan program ynag efektif untuk merealisasikan keterlibatan tersebut (Epstein, 2001)
Sebuh studi dilakukan untuk meneliti apakah pengasuhan di luar sekolah berhubungan dengan prestasi akademik anak-anak pada akhir kelas satu sekolah Dasar. Lima jenis pengasuhan di luar sekolah yang akan dipelajari adalah sebelum dan sesudah program sekolah, kegiatan ekstra kurikuler, pengasuh ayah, dan pengasuhan yang bukan dilakukan oleh orang dewasa-biasanya saudara kandung yang lebih tua. (NICHD early Care research Network, 2004). “anak-anak yang secara konsisten berpatisipasi dalam aktivitas ekstarakulir selama taman kanak-kanak dan kelas satu mendapat niai ujian matematika standardisasi yang lebih tinggi daripada anak-anak yang secara konsisten berpartisipasi dalam aktivitas ini. Partisipasi dalam jenis pengasuhan di luar sekolah lainnya tidak secara konsisten berpartisipasi dalam aktivitas ini. Partisipasi dalam jenis pengasuhan di luar sekolah lainnya tidak berhubungan dengan perkembangan.
c) Teman Sebaya
Selain keluarga dan guru, teman sebaya juga memainkan peran penting dalam perkembangan anak-anak. Dalam konteks perkembangan anak, teman sebaya adalah anak-anak dengan usia atau tingkat kedewasaan yang kurang lebih sama. Interaksi teman sebaya yang memiliki usia yang sama memainkan peran khusus dalam perkembangan sosioemosional anak-anak. Salah satu fungsi yang paling penting dari teman sebaya adalah untuk memberikan sumber imformasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga.
Para ahli perkembangan telah menemukan lima jenis status teman sebaya yaitu:
1. Anak populer
Anak populer sering dianggap sebagai teman baik dan jarang tidak disukai oleh teman sebaya mereka.anak-anak populer meberikan penguatan, mendengarkan dengan seksama, menjaga komunikasi yang terbuka dengan teman sebaya, bahagia, bertindak sebagaimana adanya, menunjukan antusiasme dan perhatian terhadap orang lain, serta percaya diri tanpa bersifat sombong.
2. Anak-anak yang teabaikan
Anak-anak yang terabaikan jarang dianggap sebagai teman baik, tetapi tidak berati tidak disukai oleh teman sebaya mereka.
3. Anak-anak yang ditolak
Anak-anak yang ditolak jarang dianggap sebagai teman seseorang dan sering sekali tidak disukai oleh teman sebaya mereka.
4. Anak-anak yang kontroversial
Anak yang kontroversial sering dianggap baik sebagai teman baik seseorang dan bisa pula sebagai anak yang tidak disukai.
Baru-baru ini, dalam suatu studi longitudinal selama 2 tahun menekankan pentingnya persahabatan (Wentzel, bary, & Caldwell, 2004). Para siswa kelas enam tidak memiliki teman, kurang terlibat dalam perilaku proporsional (kerjasama, berbagi, membantu yang lain), mendapatkan nilai yang lebih rendah, dan lebih sedih secara emosional daripada rekan-rekan mereka yang memliki satu atau lebih teman.



d) Sekolah
Disekolah, anak-anak menghabiskan bertahun-tahun waktunya sebagai anggota dari satu masyarakat terkecil yang memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan sosioemosional mereka. Dalam setiap kelas yang kita ajar, beberapa anak akan memiliki keterampilan sosial yang lemah, satu atau dua anak mungkin anak-anak yang ditolak, beberapa anak yang lain mungkin adalah anak-anak yang terabaikan. Ingatlahlah memperbaiki keterampilan sosial adalah lebih mudah ketika anak-anak berusia 10 tahun atau lebih mudah (malik dan Fuman, 1993). Pada masa remaja remaja reputasi teman sebaya menjadi semakin penting.
Berikut ini beberapa strategi yang bagus untuk memperbaiki keterampilan sosial anak-anak yaitu:
1. Membantu anak-anak yang ditolak untuk belajar mendengarkan teman sebaya dan “mendengarkan apa yang mereka katakan “ daripada berusaha untuk mendominsi teman sebaya.
2. Membantu anak-anak yang terabaikan mendapatkan perhatian dari teman sebaya dalam cara yang positif dan terus mempetahankan perhatian mereka.
3. Memberi pengetahuan kepada anak-anak yang memiliki keterampilan sosial yang rendah tentang cara meningkatkan keterampilan tersebut.
4. Membaca dan mendiskusikan buku yang sesuain tentang hubungan teman sebaya dengan siswa-siswa dan merencanakan permaianan serta aktifitas yang mendukung.
Berikut ini beberapa tema pendidikan yang sesuai dengan perkembangan (Bredekamp & Copple, 1997):
• Bidang perkembangan anak- fisik, kognitif, dan sosio emosional-memilikihubungan yang erat. Perkembangan dalam satu bidang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan dalam bidang-bidang lain.
• Perkembangan terjadi dlam satu urutan yang relatif teratur dengan kemampuan. Keterampilan, dan pengetahuan yang berikutnya terbentuk di atas yang telah dipelajari.
• Variasi individu mencirikan perkembangan anak
• Perkembangan dipengaruhi oleh banyak konteks sosial dan budaya.
• Anak-anak adalah pelajar yang aktif dan harus didorong untuk membentuk suatu pemahaman tentang dunia di sekeliling mereka.
• Perkembangan mengalami kemajuan ketika anak-anak memiliki kesempatan untuk melatih keterampilan yang baru dipelajari dan ketika mereka mengalami sebuah tantangan di luar tingkat penguasaan mereka saat ini.
• Anak-anak berkembang denga sangat baik dalam lingkungan dimana mereka merasa aman dan dihargai, kebutuhan fisik mereka terpenuhi, dan mereka merasa aman secara psikologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar